Bank Indonesia Izinkan Eksportir Menaruh DHE dalam Yuan China
investify.id Bank Indonesia kembali menghadirkan langkah besar dalam pengelolaan devisa hasil ekspor atau DHE. Kali ini, bank sentral membuka ruang lebih luas bagi eksportir dengan memperbolehkan penempatan DHE menggunakan mata uang yuan China. Kebijakan baru tersebut langsung menarik perhatian pelaku usaha, terutama sektor ekspor sumber daya alam yang selama ini sangat bergantung pada dolar Amerika Serikat.
Perubahan ini muncul saat transaksi perdagangan Indonesia dan China terus tumbuh pesat dari tahun ke tahun. Banyak eksportir mulai menggunakan yuan dalam aktivitas bisnis harian karena proses transaksi terasa lebih cepat, efisien, dan mampu mengurangi tekanan konversi mata uang asing.
Bank Indonesia melihat kondisi tersebut sebagai peluang besar untuk memperkuat pasar valuta asing domestik sekaligus memperdalam penggunaan mata uang non-dolar dalam sistem keuangan nasional. Kebijakan ini juga memberi fleksibilitas lebih besar bagi eksportir dalam mengelola dana hasil penjualan ke luar negeri.
BI Perluas Instrumen Penempatan DHE
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan bahwa instrumen penempatan DHE kini semakin beragam. Sebelumnya, eksportir hanya memiliki pilihan terbatas dalam bentuk dolar AS dan rekening tertentu. Kini, BI membuka opsi baru melalui penggunaan yuan China.
Langkah tersebut hadir seiring peningkatan transaksi local currency settlement antara Indonesia dan China. Volume transaksi yuan dalam negeri terus naik dan mulai menunjukkan peran penting dalam perdagangan regional.
Bank Indonesia juga menyiapkan berbagai instrumen tambahan agar eksportir dapat mengelola dana secara lebih optimal. Salah satu instrumen utama berupa term deposit valas dengan tenor lebih panjang. Eksportir dapat menyimpan dana dalam periode hingga 12 bulan sesuai kebutuhan bisnis mereka.
Selain membantu eksportir, kebijakan tersebut juga memperkuat likuiditas valuta asing nasional. Ketika lebih banyak devisa tersimpan dalam sistem keuangan domestik, stabilitas pasar valas Indonesia ikut mendapat dukungan lebih kuat.
Yuan China Mulai Ambil Peran Penting
China saat ini menjadi salah satu mitra dagang terbesar Indonesia. Aktivitas ekspor dan impor antara kedua negara berlangsung hampir setiap hari dalam jumlah besar. Karena itu, penggunaan yuan mulai terasa semakin relevan bagi pelaku usaha nasional.
Bank Indonesia menyebut transaksi yuan dalam sistem local currency transaction terus meningkat signifikan. Nilai transaksi bahkan mencapai miliaran dolar setiap bulan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa yuan mulai mendapat tempat dalam perdagangan internasional kawasan Asia.
Banyak eksportir melihat penggunaan yuan sebagai solusi praktis. Mereka tidak perlu lagi melakukan konversi berulang dari rupiah ke dolar lalu menuju yuan. Proses bisnis terasa lebih cepat dan biaya transaksi ikut menurun.
Kondisi itu membuat banyak perusahaan mulai mempertimbangkan diversifikasi mata uang dalam pengelolaan devisa mereka. Yuan bukan lagi sekadar alternatif, tetapi mulai menjadi bagian penting dalam strategi perdagangan internasional.
Kebijakan Baru DHE Berlaku Mulai Juni 2026
Pemerintah bersama Bank Indonesia juga memperkuat aturan baru terkait DHE SDA mulai 1 Juni 2026. Dalam aturan terbaru tersebut, eksportir wajib menempatkan sebagian besar devisa hasil ekspor ke dalam sistem keuangan domestik.
Sektor nonmigas wajib memasukkan 100 persen DHE ke perbankan nasional dalam periode tertentu. Sementara sektor migas memiliki ketentuan berbeda sesuai regulasi terbaru pemerintah.
Aturan tersebut bertujuan menjaga cadangan devisa nasional sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia menghadapi tekanan global. Pemerintah ingin memastikan dana hasil ekspor tidak langsung keluar menuju luar negeri tanpa memberi dampak pada perekonomian domestik.
Bank Indonesia kemudian melengkapi kebijakan tersebut dengan berbagai instrumen fleksibel agar eksportir tetap merasa nyaman menjalankan aktivitas bisnis mereka.
Eksportir Sambut Positif Langkah BI
Banyak pelaku usaha menyambut positif keputusan Bank Indonesia. Mereka menilai kebijakan ini mampu memberi keleluasaan lebih besar dalam pengelolaan keuangan perusahaan.
Selama ini, sebagian eksportir merasa terlalu bergantung pada dolar AS. Ketika nilai tukar dolar mengalami gejolak tajam, biaya transaksi ikut berubah dan memengaruhi margin bisnis.
Dengan hadirnya yuan sebagai pilihan baru, eksportir memiliki alternatif yang lebih sesuai dengan kebutuhan perdagangan mereka, terutama perusahaan yang memiliki hubungan bisnis kuat dengan China.
Selain itu, penggunaan yuan juga membantu perusahaan mengurangi risiko fluktuasi mata uang ganda. Proses pembayaran terasa lebih efisien karena transaksi dapat berlangsung langsung menggunakan mata uang tujuan.
Banyak pengusaha berharap langkah BI terus berkembang dalam bentuk instrumen lain yang mendukung perdagangan internasional modern.
Pasar Valas Domestik Semakin Dalam
Bank Indonesia tidak hanya fokus pada eksportir. Kebijakan ini juga menjadi bagian dari strategi besar memperdalam pasar valuta asing domestik.
Selama bertahun-tahun, dolar AS mendominasi hampir seluruh aktivitas perdagangan internasional Indonesia. Akibatnya, tekanan terhadap rupiah sering meningkat saat permintaan dolar melonjak.
Kini, BI mulai mendorong penggunaan mata uang alternatif agar struktur pasar valas menjadi lebih seimbang. Yuan menjadi salah satu fokus utama karena volume perdagangan Indonesia-China terus bertambah besar setiap tahun.
Pendalaman pasar valas memberi manfaat jangka panjang bagi ekonomi nasional. Likuiditas pasar meningkat, pilihan transaksi bertambah, dan ketergantungan terhadap satu mata uang bisa berkurang secara perlahan.
Langkah tersebut juga membuka peluang kerja sama lebih luas dengan negara mitra lain yang mulai mengembangkan transaksi lintas negara menggunakan mata uang lokal.
Instrumen Baru Bantu Dunia Usaha
Selain memperluas mata uang penempatan DHE, Bank Indonesia juga menghadirkan instrumen tambahan yang mendukung kebutuhan bisnis eksportir.
Eksportir nantinya dapat memanfaatkan DHE sebagai underlying transaksi hedging atau lindung nilai. Opsi tersebut membantu perusahaan menjaga stabilitas keuangan saat pasar valuta asing bergerak fluktuatif.
Tidak hanya itu, dana DHE juga bisa menjadi agunan kredit rupiah dalam sistem perbankan nasional. Kebijakan ini memberi keuntungan tambahan bagi perusahaan yang membutuhkan pembiayaan usaha.
BI juga membuka peluang penggunaan instrumen forex swap serta transaksi forward dalam pengelolaan valuta asing. Dengan pilihan lebih lengkap, eksportir dapat menyesuaikan strategi keuangan sesuai kondisi pasar dan kebutuhan operasional mereka.

Artikel Terupdate investify.id:
- Donald Trump Tunda Perintah Eksekutif Terkait AI, Industri Digital
- Skema Investasi Properti Ini Bikin Banyak Orang Kaget Profit
- Perbedaan Option dengan Future dan Spot Trading
Penguatan Sistem Pengawasan
Bank Indonesia turut memperkuat pengawasan dalam implementasi aturan baru DHE. Sistem aplikasi dan proses bisnis terus mendapat pembaruan agar pengelolaan devisa berjalan lebih tertib dan transparan.
Pengawasan tidak hanya berlangsung melalui laporan administratif, tetapi juga lewat sistem off-site monitoring yang mampu memantau aktivitas secara lebih cepat dan efisien.
Langkah tersebut penting untuk memastikan seluruh eksportir menjalankan aturan sesuai ketentuan pemerintah tanpa menghambat aktivitas perdagangan nasional.
BI ingin menciptakan keseimbangan antara pengawasan yang kuat dan fleksibilitas bisnis yang tetap nyaman bagi pelaku usaha.
Dampak terhadap Rupiah dan Ekonomi Nasional
Kebijakan penempatan DHE dalam yuan berpotensi memberi dampak positif terhadap stabilitas rupiah. Ketika devisa hasil ekspor tersimpan lebih lama dalam negeri, cadangan valas nasional ikut menguat.
Cadangan devisa yang sehat membantu Indonesia menghadapi tekanan eksternal seperti gejolak suku bunga global, konflik geopolitik, maupun pelemahan ekonomi internasional.
Selain itu, diversifikasi mata uang transaksi dapat mengurangi tekanan permintaan dolar AS di pasar domestik. Kondisi tersebut memberi ruang lebih besar bagi stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka panjang.
Pelaku pasar melihat langkah BI sebagai sinyal bahwa Indonesia mulai bergerak menuju sistem perdagangan internasional yang lebih fleksibel dan adaptif terhadap perubahan global.
Hubungan Dagang Indonesia dan China Terus Menguat
China saat ini menjadi salah satu pusat perdagangan terbesar dunia. Indonesia pun memiliki hubungan ekonomi yang sangat erat dengan negara tersebut.
Banyak komoditas ekspor nasional mengalir menuju pasar China, mulai dari batu bara, nikel, kelapa sawit, hingga berbagai produk industri lainnya.
Karena itu, penggunaan yuan dalam transaksi perdagangan terasa semakin masuk akal bagi banyak perusahaan nasional. Eksportir tidak perlu lagi melalui proses konversi panjang yang memakan biaya tambahan.
Kerja sama antara Bank Indonesia dan bank sentral China juga membuka peluang integrasi sistem pembayaran yang lebih modern pada masa mendatang.
Jika tren ini terus berkembang, penggunaan yuan dalam perdagangan regional Asia berpotensi meningkat lebih besar lagi.
Dunia Perbankan Mulai Bersiap
Perbankan nasional juga mulai menyesuaikan diri menghadapi perubahan kebijakan DHE. Bank-bank besar kini memperkuat layanan transaksi yuan dan memperluas fasilitas perdagangan internasional.
Beberapa bank bahkan telah menyiapkan sistem treasury khusus untuk mendukung kebutuhan eksportir yang ingin menggunakan yuan secara aktif.
Langkah tersebut menunjukkan bahwa sektor keuangan Indonesia mulai bergerak menuju ekosistem transaksi multivaluta yang lebih modern.
Bank Indonesia berharap kolaborasi antara regulator, perbankan, dan dunia usaha mampu menciptakan sistem perdagangan internasional yang lebih efisien dan kompetitif.
Masa Depan Transaksi Non-Dolar di Indonesia
Keputusan BI membuka penempatan DHE dalam yuan menjadi sinyal penting bagi arah kebijakan ekonomi Indonesia ke depan.
Dolar AS memang masih memegang peran dominan dalam perdagangan global. Namun, banyak negara mulai mencoba mengurangi ketergantungan terhadap satu mata uang tunggal demi menjaga stabilitas ekonomi mereka.
Indonesia tampaknya ikut mengambil langkah serupa melalui pendalaman transaksi mata uang lokal dan penguatan kerja sama bilateral.
Jika penggunaan yuan terus meningkat, bukan tidak mungkin mata uang lain juga mendapat ruang lebih besar dalam sistem perdagangan nasional pada masa mendatang.
Perubahan tersebut tentu membutuhkan waktu panjang, tetapi arah kebijakannya mulai terlihat semakin jelas.
Kesimpulan
Bank Indonesia resmi membuka peluang baru bagi eksportir melalui kebijakan penempatan devisa hasil ekspor dalam yuan China. Langkah ini memberi fleksibilitas lebih besar bagi pelaku usaha sekaligus memperkuat pasar valuta asing domestik.
Kebijakan tersebut hadir seiring meningkatnya hubungan dagang Indonesia dan China yang terus berkembang setiap tahun. Penggunaan yuan juga membantu eksportir menjalankan transaksi lebih efisien tanpa terlalu bergantung pada dolar AS.
Selain memperluas mata uang penempatan DHE, BI juga menghadirkan berbagai instrumen tambahan seperti term deposit valas, hedging, forex swap, hingga pemanfaatan DHE sebagai agunan kredit.
Banyak pelaku usaha menyambut positif langkah tersebut karena mampu mendukung kebutuhan bisnis modern yang semakin dinamis. Di sisi lain, pemerintah berharap aturan baru ini dapat memperkuat cadangan devisa nasional dan menjaga stabilitas ekonomi Indonesia dalam jangka panjang.
